Header image alt text

Arya Sastra

Guru yang sejati adalah seorang yang terus belajar sepanjang hidupnya.

Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian IV)

Posted by Wijaya Kusuma on Februari 15, 2017
Posted in Renungan  | Tagged With: , , , ,

Sekarang kembali saya ajak kepada kesejahteraan lahir bathin. Secara lahiriah akan dapat dengan puas menggunakan atau menikmati materi yang ada. Namun tidak menimbulkan suatu keterikatan akan materi. Materi adalah sebagai alat untuk mempertahankan hidup, dalam menghapus balutan karmawasana yang menyebabkan adanya PUNARBHAWA. Continue reading “Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian IV)” »

Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian III)

Posted by Wijaya Kusuma on Januari 30, 2017
Posted in Renungan  | Tagged With: , , , ,

Sekarang saya akan meninjau sifat rohaniah yang bersifat Satwam. Seperti dasar pokoknya adalah yang bersifat gaib dan tidak mengingini materi. Namun karena juga merupakan jiwa dari jasmani maka akan mempunyai sifat yang agak berlainan. Tetapi saya akan mengusahakan sebagai anti materi. Badan roh adalah kumpulan dari karmawasana yang tersimpan dan merupakan citta. Kalau demikian berarti kebenciannya pada pada dunia materi disebabkan oleh  adanya ikatan untuk kembali lagi ke dunia. Continue reading “Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian III)” »

Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian II)

Posted by Wijaya Kusuma on Januari 25, 2017
Posted in Renungan  | Tagged With: , , , ,

Sekarang akan saya ketengahkan lagi mengenai apa yang disebut TRI GUNA. Tri Guna adalah tiga guna/manfaat dalam hidup setiap manusia. Dengan adanya dua badan, yaitu badan jasmani dan badan roh, maka keduanya itu akan mempunyai kepentingan masing-masing. Jasmani dengan sifat TAMAH, rohani dengan sifat SATWAM.

Continue reading “Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian II)” »

Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian I)

Posted by Wijaya Kusuma on Januari 24, 2017
Posted in Renungan  | Tagged With: , , ,

Setelah saya mengikuti perkembagan ratio di zaman sekarang saya sangat kagum sekali. Daya berpikir manusia begitu pesatnya. Apa yang dirasakan dulu itu tak mungkin dapat di jangkau oleh kecerdasan akal manusia, sekarang telah menjadi kenyataan. Dengan sumbangan pikiran, yang diamalkan melalui sarana kemanusiaan seperti pabrik-pabrik besar, industri-industri besar dan modern. Keperluan hidup dapat memberikan gairah untuk mempertahankan hidup terus-menerus. Dunia telah kebanjiran dengan serba ragam keperluan hidup dari yang antik sampai ultra modern. Continue reading “Renungan Malam Purnama di Taman Mayura oleh Wiswamurti (Bagian I)” »

Pengangguran adalah sarang Betara Kala

Posted by Wijaya Kusuma on Juli 1, 2016
Posted in Spiritual  | Tagged With: ,

Kerja bertujuan untuk memperlancar peredaran darah. Apabila sudah merata sulit sekali kena penyakit. Makan enak, bergizi tinggi adalah pembunuh tingkat atas. Bagi masyarakat bawah sulit untuk mendapat makanan yang demikian. Continue reading “Pengangguran adalah sarang Betara Kala” »

Hati nurani adalah radar kita

Posted by Wijaya Kusuma on Juli 1, 2016
Posted in Spiritual  | Tagged With: ,

Kehilangan kepercayaan diri menyebabkan kekosongan jiwa, tidak ada yang menyentuh hati nuraninya. Penyesalan-penyesalan akan timbul. Ciri-ciri zaman sekarang tidak ada orang yang memiliki pantes (manut dalam bahasa Bali). Mereka memandang, mendengar, meminjam dari orang lain. Continue reading “Hati nurani adalah radar kita” »

Keluarga merupakan tempat pengabdian pertama

Posted by Wijaya Kusuma on April 12, 2016
Posted in Spiritual  | Tagged With: ,

Keselamatan keluarga hendaknya diutamakan. Tanpa keselamatan keluarga diri ini tidak pernah selamat (sebab perasaan akan terganggu). Biasakanlah menghayati satu kata, sehingga kita tidak sering salah kaprah. Continue reading “Keluarga merupakan tempat pengabdian pertama” »

Pengadilan yang paling adil

Posted by Wijaya Kusuma on April 12, 2016
Posted in Spiritual  | Tagged With: ,

Ingat sejarah hidup. Bimbinglah dorongan yang  ada dalam jiwanya sehingga berkembang. Sebenarnya manusia ingin mendapatkan prestasi. Penampilan-penampilan itu sebenarnya untuk diakui. Materi sebagai alat untuk mengukur prestasi. Materi sebagai pengukur seberapa jauh kemampuan seseorang sehingga kita diakui atau didaftar sebagai orang-orang yang berprestasi.

Ada 2 (dua) dorongan dalam diri menurut ilmu jiwa yaitu dorongan baik, dorongan ini yang dikembangkan untuk memperoleh prestasi, dan dorongan yang tidak baik (nafsu). Dari dorongan ini manusia mengaku-ngaku, timbul keserakahan untuk diisi atau dipenuhi. Dorongan ini banyak menuntut. Tetapi dorongan-dorongan berusaha mendapat  prestasi untuk mendapat pengakuan untuk bisa duduk sejajar dengan diri kita. Dorongan nafsu menyebabkan dari telinga kanan ke luar ke telinga kiri. Tidak mau berpikir, tidak ada suatu usaha. Dorongan baik : orang ini memiliki ketekunan dan kedisiplinan. Orang ini tampil sebagai manusia yang berprestasi, tidak banyak kelihatan. Apa yang ditekuni supaya berhasil. Dorongan nafsu menimbulkan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan, sehingga kita berada di mana? Terpengaruh oleh dorongan nafsu menimbulkan permasalahan-permasalahan. Orang-orang ini tidak mau tahu dengan masa depan. Orang-orang ini  mempunyai iman yang lebih kuat. Memiliki perencanaan.

Dorongan yang ke dua tidak mempunyai masa depan yang lebih baik. Dorongan baik dan tidak baik semuanya ada dalam badan, bukan ada di mana-mana. Dorongan nafsu adalah kebutuhan jasmani. Orang yang kawin dengan dorongan nafsu tujuannya memuaskan sex. Kawin bagi dorongan yang pertama adalah suatu kelengkapan sehingga ia bisa merencanakan, mengatur, tahu kesulitan, sehingga ada pembinaan rumah tangga. Maka oleh karena itu dalam diri kita ada pengadilan (ada yang menghukum, hukumannya surga atau neraka). Pengadilan itu dijabat oleh otak, yang tidak bisa ditipu. Hakimnya adalah hati nurani. Pengadilan inilah yang paling adil. Kita tidak perlu main “supaya dianggap”, sebab kelengkapan pengadilan ada dalam tubuh manusia. Penyesalan adalah masuk penjara. Selama belum ada tobat, kekacauan pikiran akan tetap ada. Inilah yang menyebabkan kesejahteraan hidup sulit untuk dicapai. Yang berperkarapun sebenarnya ada dalam diri. Terjadinya bermacam-macam problema dalam kehidupan karena dorongan nafsu.

Penghayatan cerita Ramayana : Subali dan Sugriwa

Posted by Wijaya Kusuma on April 12, 2016
Posted in Spiritual  | Tagged With: , ,

Subali dan Sugriwa masih kuat berkecamuk dalam diri. Sugriwa dan Subali manampilkan diri dalam perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Biasanya Sugriwa yang menangis, mengeluh dan menyesal. Continue reading “Penghayatan cerita Ramayana : Subali dan Sugriwa” »

Tujuan ilmu pengetahuan untuk merubah sikap mental

Posted by Wijaya Kusuma on November 15, 2015
Posted in Spiritual  | Tagged With: , ,

Dua hal pokok dalam pembinaan umat manusia yaitu memberikan segala ilmu pengetahuan dan merubah sikap mental. Ilmu adalah salah satu kekayaan yang dimiliki, belum menjadi jaminan untuk bisa hidup. Pintarnya hanya bicara. Ilmu yang diberikan bertujuan untuk merubah sikap mental. Kalau belum berubah sama halnya dengan bayi. Dia harus mengerti kehidupan, mengerti harus berbuat. Sebelum ada perubahan sikap berarti tidak ada apa-apa. Continue reading “Tujuan ilmu pengetahuan untuk merubah sikap mental” »