Header image alt text

Arya Sastra

Guru yang sejati adalah seorang yang terus belajar sepanjang hidupnya.

Kegagalan dalam Kehidupan akibat berpikir dari satu sisi

Posted by Wijaya Kusuma on Januari 10, 2018
Posted in Spiritual  | Tagged With: , ,

 

            Rwabhineda kalau bergerak menjadi dua. Orang yang berpikir dari satu sisi akan kecewa. Manusia dibelenggu oleh sifat individualnya sehingga tidak mau berpikir dari sisi lain. Rwabhineda bukan dua hal yang bertentangan tetapi saling berkaitan yang tidak bisa terlepas, yang sudah menunggal menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh siapapun juga. Harus kedua-duanya diambil dapatlah satu. Kalau satu diambil tidak akan mendapat apa-apa.          Continue reading “Kegagalan dalam Kehidupan akibat berpikir dari satu sisi” »

Setiap kehidupan adalah tuntutan

Posted by Wijaya Kusuma on Juni 19, 2015
Posted in Spiritual  | Tagged With: ,

Jika perilaku kita pas, rahayu itu akan tercapai. Dasar badan kita dari darah. Tanpa adanya darah tidak ada kehidupan. Setiap ada kehidupan adalah tuntutan. Darah itu kemudian menggumpal menjadi darah daging (yang menjadi tubuh kita). Semua darah berasal dari tanah (segala sesuatu yang ada di bumi). Apa yang kita makan menjadi darah. Ada yang menjadi rambut, dan sebagainya. Continue reading “Setiap kehidupan adalah tuntutan” »

Mengapa persoalan kehidupan ini dikembalikan kepada Bhagawan Vyasa

Posted by Wijaya Kusuma on Maret 14, 2015
Posted in Spiritual  | Tagged With: , ,

Berpikir adalah sebagai lambang Bhagawan Vyasa, yang menulis Weda ini. Jelek berjumpa dengan baik akan melahirkan Bhagawan Vyasa. Jelek itu yang mengajar kita (menyebrangkan orang/sebagai pelayan), yang pada akhirnya diberikan penyupatan oleh Rsi Parasara. Badan itu kita supat, atma membawa baik sehingga masuk ke Puri Durga (sifat jelek) melahirkan Andama (kelahiran yang berada di bawah). Badan itu suka menuntut sehingga membawa jelek (membuat namanya jelek). Oleh karena itu badan ini harus melakukan pengabdian (bekerja tanpa pamrih). Biasanya badan ini tidak mau kerja (malas). Badan ini yang diajarkan untuk mengabdikan diri selaku tukang perahu (kepada kepentingan orang).  Kalau badan ini tidak melakukan pengabdian tetap dianggap jelek, setelah bekerja tanpa pamrih maka datang yang menyucikan diri (Parasara = tirta). Continue reading “Mengapa persoalan kehidupan ini dikembalikan kepada Bhagawan Vyasa” »

Pengaruh kehidupan Kaliyuga belum hilang

Posted by Wijaya Kusuma on Desember 30, 2014
Posted in Spiritual  | Tagged With: , ,

Kehidupan zaman Kali yang menang adalah darah (Korawa). Kaliyuga adalah suatu kekuatan yang bersifat material. Kekayaan menang. Sedikit-sedikit kekayaan/uang. Asal banyak mempunyai uang dikatakan bahagia/ sadya. Continue reading “Pengaruh kehidupan Kaliyuga belum hilang” »

Penderitaan Justru Melahirkan Konsep Kehidupan yang baru untuk mempertahankan hidup

Posted by Wijaya Kusuma on Desember 30, 2014
Posted in Spiritual  | Tagged With: , ,

Sifat Alengkapura tidak senang melihat orang lain sukses, dan selalu merasa bermusuhan. Lalu orang-orang ini mencari orang untuk menyalahkan yang sukses, dan berusaha agar orang sukses menjadi gagal. Mereka berprilaku seperti siluman-siluman. Orang ini juga yang menyuruh orang lain untuk berbuat yang macam-macam. Seperti dalam lingkungan masyarakat : dulu kita baik dengan lingkungan, karena kita berada di bawah mereka, kalau kita lebih baik dari mereka, mereka tidak baik. Sifat Korawa dan Alengka tidak senang melihat hidupnya lebih baik dari pada dirinya. Mereka mencari prilaku kita yang salah-salah dan menyebarkan kepada orang lain, agar orang lain tidak percaya kepada kita. Continue reading “Penderitaan Justru Melahirkan Konsep Kehidupan yang baru untuk mempertahankan hidup” »

Kegagalan dalam Kehidupan akibat berpikir satu sisi

Posted by Wijaya Kusuma on Oktober 5, 2014
Posted in Spiritual  | Tagged With: , ,

Rwabhineda kalau bergerak menjadi dua. Orang yang berpikir dari satu sisi akan kecewa. Manusia dibelenggu oleh sifat individualnya sehingga tidak mau berpikir dari sisi lain. Rwabhineda bukan dua hal yang bertentangan tetapi saling berkaitan yang tidak bisa terlepas, yang sudah menunggal menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh siapapun juga. Harus kedua-duanya diambil dapatlah satu. Kalau satu diambil tidak akan mendapat apa-apa. Continue reading “Kegagalan dalam Kehidupan akibat berpikir satu sisi” »

       Marilah saya ajak melihat Matsyapati. Matsyapati dengan rupa tampan sebagai anak lelaki, walaupun kelahirannya kembar dengan Durgandini, perlu mendapat pendidikan di istana di bawah asuhan ayahnya Basuparicara dengan ibunya Girika. Setelah Matsyapati dewasa, dia diangkat menjadi Raja Wirata. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata (3) : “Kehidupan yang luhur”” »