Header image alt text

Arya Sastra

Guru yang sejati adalah seorang yang terus belajar sepanjang hidupnya.

Itulah sebagai bahan dalam berpikir agar dapat hidup tentram. Tinggal Duryodhana. Marilah saya ajak melihat akan kebingungan Duryodhana, setelah kehilangan panglima-panglima perang yang diharapkan untuk dapat menolong menegakkan kerajaan Korawa. Prajurit Korawa terpilih hanya tinggal 3 orang, Krepa, Aswatama, dan Karthamarma. Duryodhana meninggalkan medan pertempuran dan bersembunyi dalam telaga. Demi melihat Duryodhana. meninggalkan medan, ke tiga prajuritnya mencari dengan diikuti oleh Sanjaya. ┬áKe tiga orang tadi mengajak, agar pertempuran dilanjutkan. Namun Duryodhana menolak dengan alasan sudah lelah. Orang-orang yang kebetulan mendengar percakapan tadi, antara Duryodhana dengan ke tiga prajurit Korawa tadi melaporkan pada Pandawa. Para Pandawa segera menuju tempat itu dan mendekatinya. Yudhistira mengajak untuk berperang. Terjadilah tanya jawab antara Yudhistira dengan Duryodhana. Duryodhana menolak dengan alasan bahwa dia telah lelah dan perlu mengaso. Ke dua segalanya telah rusak, dan dia dengan rela akan masuk hutan. Seterusnya Duryodhana dengan rela menyerahkan kerajaan Hastina kepada Yudhistira. Ke empat dia tak mungkin akan melawan musuh yang lengkap dengan persenjataannya. Bila Pandawa suka maju satu persatu, Duryodhana akan mau berperang. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharata Yudha” (14)” »

Hanya sekian dahulu ulasan yang dapat saya berikan, karena hampir sebagian besar telah dijelaskan dimuka. Lebih baik kalau saya melanjutkan dengan kematiannya Salya. Salya juga panglima perang yang tangguh. Mempunyai kesaktian yang melebihi Karna. Jadi Pandawa sangat khawatir akan kesaktiannya Salya. Namun karena ada maksud baik dari Salya yang tak mau membela Korawa, tetapi karena telah terkena tipu, demi harga dirinya sebagai seorang satria badannya dia serahkan kepada Korawa. Diapun akan menunjukkan sifat satrianya dalam medan pertempuran. Dia tak akan mau, kalau dia dipandang penghianat yang secara nyata. Akhirnya atas nasehat Krishna, dengan mengirim utusan (Nakula) untuk meminta rahasia kematiannya. Nakula berhasil baik, dan Salya mau memberikan. Hanya Yudhistiralah yang akan dapat mengalahkannya. Yudhistira menghadapi Salya. Salyapun tahu dirinya akan menemui ajal. Dengan senjata Kalimosada akhirnya Salya gugur. Dengan demikian habislah kekuatan Duryodhana yang diandalkan. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (13)” »

Marilah saya lanjutkan cerita gugurnya Karna. Dalam cerita tadi Karna belum dapat dikalahkan. Karna sangat kuat. Malah Pandawa hampir dapat dilumpuhkan, kecuali Bhima. Arjuna dengan senjata Gandewanya akan dipergunakan. Krishna akan lebih awas. Salya akan dapat memainkan peranan rahasianya lebih baik. Walaupun Karna mempunyai kesaktian yang tak terkalahkan, namun senjata saktinya telah tak ada lagi gunanya senjata Kunta. Senjata naga sudah tak mempan lagi malah tak akan lagi dipergunakan. Tinggal kepandaian saja. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (12)” »

Bhisma telah gugur, Drona, Jayadrata juga telah gugur. Sekarang akan disusul oleh Dussesana. Nah, sekarang saya akan lanjutkan dengan cerita gugurnya Dussesana adiknya Duryodhana. Hari ini adalah hari yang ke enam belas. Pada hari ini yang menjadi panglima perang adalah Karna. Kereta Karna akan dikusiri oleh Salya. Pada malam ke tujuh belas Karna menetapkan akan berhadapan dengan Arjuna. Namun antara Salya dan Karna tarjadi percekcokan, karena merasa dirinya direndahkan. Karna dicaci maki habis-habisan. Atas permitaan Duryodhana agar seimbang kekuatannya melawan Arjuna yang dikusiri oleh Krishna. Salya mengalah dan mau mengusiri kereta sang Karna. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (11)” »

Sekarang lain lagi, Rsi Drona masih hidup. Korawa belum merasa apa-apa. Pandawa masih khawatir. Mengingat kesaktian Drona. Sekarang saya akan ceritakan akan kematian Drona yang sangat sakti itu. Hari ke limabelas Drupada mati ketika diraba oleh Rsi Drona. Rsi Drona berunding dengan Arjuna, mengatakan bahwa Arjuna tak akan dapat mengalahkan Rsi Drona. Bhatara Krishna tahu, bahwa sulit untuk mengalahkan Drona. Beliau menyuruh agar Yudhistira mau berbohong, dan mengatakan bahwa putranya Aswatama telah gugur. Yudhistira tidak mau melakukan hal itu karena bertentangan dengan dharmanya. Untuk tidak terjadinya berita bohong, Bhima mendapat akal. Bhima membunuh seekor gajah yang bernama Aswatama. Dengan matinya gajah yang bernama Aswatama, barulah Yudhistira mengatakan dimuka umun bahwa Aswatama Asti (gajah) mati, dengan suara Aswatama yang keras, dan lemah pada kata gajah. Mendengar berita itu yang dikatakan oleh Yudhistira, Rsi Drona percaya. Rsi Drona pergi ke medan pertempuran dengan perasaan kesedihan dan bingung. Di sana kesempatan Dresthadhyumna memenggal leher sang Rsi dan seketika itu meninggal. Dengan kematian ayahnya, Aswatama sangat marah dan berjanji akan membunuh Dresthadhyumna. Drona mati pada umur 85 tahun. Aswatama mengumpulkan seluruh bala tentara Korawa yang sudah kocar kacir, dan dengan senjata Brahmastra yang sakti untuk membakar Pandawa. Begitu lidah api mengejar balatentara Pandawa, mereka lari tunggang langgang. Melihat keadaan yang demikian Bhatara Krishna lalu memberikan perintah agar semuanya melepaskan senjata dan diam ditempat. Senjata Aswatama tak dapat berbuat apa-apa.Senjata tersebut hanya dapat dipergunakan sekali saja. Dengan kenyataan yang demikian, hilanglah harapan Aswatama untuk membalas dendam kepada Pandawa.

Bila kita dengar semua cerita akan kesaktian Drona, kita akan bingung akan pengendalian serta kepemimpinan Krishna dalam mengatur siasat perang dalam mengalahkan musuhnya. Drona yang mempunyai pengertian pengetahuan demi untuk kepentingan sendiri, sangat sulit untuk dikalahkan. Sebab orang akan sulit menghilangkan kepentingannya sendiri. Siapakah yang mau mengalahkan ilmu yang dapat memberikan keuntungan diri sendiri. Tapi sayangnya pengetahuan demi untuk kepentingan diri sendiri melahirkan suatu akal yang tidak baik. Anggap saja dengan kata licik. Aswatama, memetik hasil dengan tidak berusaha sendiri. Kalau demikian tentu usaha orang lain. Jadi dengan mempergunakan orang lain yang melakukan usaha, dan dengan diam-diam mengambil hasilnya. Inilah yang saya maksudkan dengan sifat licik. Pengetahuan yang tidak dilandasi oleh dharma akan takut sekali bila dharma itu sendiri yang mengatakan/menyalahkan. Bila sifat licik yang dilakukan dan dharma sendiri mengetahuinya, maka dia akan lemah. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (10)” »

Abhimauyu telah gugur. Sifat yang takbur telah hilang. Jayadrata telah kalah. Keagungan yang ingin kuasa sendiri telah lenyap dikalahkan oleh kekuatan yang Mahakuasa. Pikiran sebagai obor sedang bertempur menerangi kegelapan. Gatotkaca muncul. Sekarang saya akan ajak dengan cerita gugurnya Gatotkaca sebagai panglima Pandawa yang sangat sakti, yang dapat terbang. Karna sebagai lawan yang sangat pandai dalam memanah. Karna dengan senjata Konta pemberian Hyang Indra yang sangat sakti. Dalam pertempuran yang sangat seru itu, berakhir dengan gugurnya Gatotkaca. Pandawa marah pada Bhatara Krishna, dengan kekalahannya Gatotkaca. Namun setelah Bhatara Krishna menerangkan duduk persoalannya, Pandawa mau menerima dan berterimakasih. Diterangkan oleh Bhatara Krishna, bahwa senjata Konta itu amat sakti dan dapat dipergunakan satu kali saja. Demi untuk keselamatan Pandawa, Gatotkaca harus dikorbankan, selamatlah Pandawa dari senjata Konta Karna. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (9)” »

Marilah kita tinggalkan kematiannya Bhisma. Bhisma sedang melihat pertempuran dari cucunya. Bagaimana akhirnya? Saya akan lanjutkan dengan gugurnya Abhimanyu putra Arjuna oleh Jayadrata. Abhimanyu yang baru saja berumur 16 tahun, mengadakan pertempuran terpisah dengan para Pandawa. Ini adalah tipu muslihat Korawa. Abhimanyu yang sakti itu dapat mengelakkan atau dapat menerobos pasukan Rsi Drona, Aswatama, Krepa, Karna dan lain raja pembela Korawa. Malah dapat membunuh putra Duryodhana sendiri. Dusesana, dapat dilukai, dan Raja Jayadrata datang menolong Korawa. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (8)” »

Dengan kekalahan Arya Seta, Pandawa bersedih. Namun Krishna sangat marah. Beliau memerintahkan Arjuna untuk menghadapinya. Arjuna sampai di medan pertempuran, hatinya menjadi lemah. Senjata jatuh, demi melihat yang akan dilawan. Yang akan menjadi musuhnya seperti Bhisma, Drona dan seluruh keluarganya para Korawa. Ke semuanya itu adalah darah Kuru dan gurunya yang tak pantas dilawan. Tetapi atas nasehat Bhatara Krishna yang bijaksana, Arjuna dapat pulih kembali semangat tempurnya. Nasehat beliau yang isinya antara lain : memperingatkan akan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang satria. Juga diperingatkan, bahwa pertempuran itu bukanlah melawan keluarga, atau guru, tetapi pertempuran menghancurkan sifat-sifat yang gelap, jahat, dengki dan angkara murka. Dan juga diperingatkan, bahwa jiwa itu tak bisa dibunuh oleh siapa saja. Jiwa itu tak dapat dibinasakan. Tetapi wadahnya yang melakukan sifat-sifat adharma maka perlu harus dibunuh. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (7)” »

Yaa, lupakan saja dulu, dan marilah dilihat pertempuran yang akan dilakukan oleh kedua belah pihak. Setelah mereka semua berkumpul, dan menyusun barisan masing-masing dengan cara yang dipandang sudah baik dan kuat, dan keduanya menghadapkan panglima-panglima perangnya masing-masing. Pertama berhadapan antara Bhisma yang menjadi panglima perang Korawa dan Arya Seta sebagai panglima perang Pandawa. Pertempuran tahap pertama, Bhisma dapat ditendang dan jatuh di sungai Gangga. Di sana ia berjumpa dengan ibunya Dewi Gangga. Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (6)” »

Di atas telah saya ceritakan raja yang memihak Pandawa. Sekarang demikian juga halnya dengan Korawa. Korawapun mengadakan perundingan untuk membicarakan bagaimana caranya untuk mengalahkan Pandawa. Juga dibicarakan siapa yang akan menjadi panglima perangnya. Sudah pimpinan ada pada Duryodhana. Setelah mengalami perdebatan sengit antara Drona, Bhisma, Salya, Karna maka didapat suatu kesimpulan Bhismalah yang menjadi panglima perangnya. Setelah itu mereka berangkat ke Tegal Kuruksetra sebagai medan perang. Adapun raja yang membantu Korawa ialah : Continue reading “Menjelajahi Mahabharata “Perang Bharatayudha” (5)” »